TANGGAPAN
PERMODELAN DAN PERMODELAN SISTEM
BY
Lutfy Abdulah
Mira Yulianti
Teori
pemodelan system
Definisi
Model
: abstraksi dari kondisi real di lapangan
Sistem
: segala sesuatu yang menjadi perhatian. Hal ini berarti bahwa dalam memodelkan
suatu kondisi maka harus fokus pada apa yang ingin dijawab dengan model dan
dibangun menggunakan sistem thinking. Sistem thinking adalah cara melihat
sistem secara holistik dari variabel2 yang memperngaruhi sistem tersebut. Namun
demikian, sistem thinking harus diarahkan pada apa yang ingin dijawab, tujuan
dari menjawab permasalahan serta apakah dapat dijalankan dalam dunia nyata yang
kemudian disebut dengan evaluasi dan model use.
Secara
umum, terdapat 2 teknik dalam pemodelan
yakni empirico-intuitive yakni memahami kondisi yang sebenarnya dan kemudian
menentukan ragam penyusunan model, dan deductive yakni teknik yang dibangun
melalui perenungan yang mempertimbangkan tesis utama atau hakikat dari suatu
masalah, kemudian mencari manifestasi dari hakikat tersebut dalam beragam
sistem nyata di lapangan. Kedua teknik ini tentu sangat berbeda,
empirico-intuitive cenderung dilakukan oleh praktisi di lapangan sementara
deductive dilakukan oleh para ilmuan yang berusaha membangun teori-teori dan kemudian
menjalankan model untuk menjawab permasalahan di lapangan.
Model
sistem berbeda dengan model matematika atau model statistik. Jika model
matematika berusaha untuk membangun hubungan terbatas antara beberapa variabel,
sementara model statistik menduga hubungan melalui penyederhanaan variabel yang
mempengaruhi. Model sistem berupaya untuk terus mengembangkan dan mencari
hubungan antara variabe2 yang mempengaruhi sistem. Selain itu, model sistem
haruslah tidak linier dan ketika terdapat efek dari simulasi komponen model
maka akan berpengaruh pada komponen model lainnya. Untuk itu, diperlukan uji
sensifitas dari komponen model.
Manfaat dari membangun suatu model adalah menyajikan
alternatif/pilihan kebijakan atau pengambilan keputusan oleh decision maker
dalam mengelola sumberdaya dalam hal ini sumberdaya alam. Dalam menyajikan
alternatif pengambilan keputusan maka dibutuhkan tool. Tool ini sebagai alat
bantu supaya lebih efektif, efisien dan valid dalam menjelaskan kenyataan.
Suatu tool yang dibangun haruslah mempertimbangkan beberapa hal yakni (1)
keterlibatan stakeholders terkait, terutama praktisi dan subyek dari jalannya
kebijakan tersebut; (2) adanya partisipasi atau feedback dari stakeholder; (3)
adanya proses pembelajaran aktif yaitu berupa ketertarikan untuk menguji model,
pemahaman dalam melihat model serta keinginan untuk berpartisipasi dalam mengomentari
model tersebut. Ketiga hal tersebut menunjukkan bahwa modeler (pembuat model)
harus membuat model yang sederhana yang diikuti oleh framework atau model
konseptual yang dibuat sehingga stakeholder dapat dengan mudah memahami model
tersebut.
Tahapan Pembangunan Model
Ada
6 tahapan model yakni :
a.
Menentukan
isu, batasan dan tujuan model: Model yang dibangun harus menjawab 1 pertanyaan
inti dan beberapa pertanyaan ikutan dari pertanyaan inti tersebut. Namun, tidak
berarti dapat melebar kemana-mana, harus ada batasan. Untuk itu, model yang
dibangun harus menyebutkan bataan serta asumsi-asumsi yang digunakan.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, maka dapat ditentukan tujuan pembangunan
model. Asumsi yang digunakan haruslah menerangkan tujuan yang ingin dicapai
dari model yang dibangun.
b.
Spesifikasi
model konseptual
Dalam membangun model perlu digambarkan causal loop. Melalui causal loop diagram
maka tahapan yang pertama dapat dikendalikan serta dapat dengan mudah
menentukan tujuan permodelan, stakeholer yang harus terlibat dalam evaluasi
model serta harapan-harapan yang akan dicapai dari membangun model. Causal loop
diagram harus digambarkan dengan jelas, dan memahami hubungan antar variabel. Pada
tahap ini biasanya dilalukan validasi hubungan antar komponen.
c.
Spesifikasi
model kuantitatif
Didasarkan pada model konseptual, selanjutnya
dibangun hubungan matematika dari setiap komponen model. Hubungan matematika
ini cenderung membatasi ruang gerak model terutama pada data-data yang bersifat
kategori. Modeler harus merubah data pernyataan, persepsi atau tanggapa dalam
skala numerik. Biasanya menggunakan skala likert. Dalam membangun hubungan
matematis dapat menggunakan hasil penelitian sendiri atau merujuk pada
hasil-hasil penelitian sebelumnya. Teknik dalam menggambarkan hubungan ini
sangat bergantung pada kemampuan untuk mengeksplorasi hasil penelitian,
membangun fungsi logika serta memanipulasi data statis menjadi data-data yang
bersifat dinamis.
d.
Evaluasi model
Evaluasi model dimaksudkan untuk menguji hasil
model. Variabel yang diuji adalah variabel tujuan. Dalam tahap ini tidak
dilakukan validasi karena yang dilihat adalah tren dari variabel tujuan. Bukan komponen
model. Variabel tujuan dibangun atas hubungan sekian banyak variabel model. Hal
ini tentu sangat sulit sekali, sehingga cukup dengan evaluasi. Cara evaluasi
model yaitu membandingkan tren model dengan kondisi real di lapangan melalui
laporan, hasil penelitian serta laporan data statistik.
e.
Model use
(penggunaan model)
Model use adalah menjalankan model melalui
simulasi pilihan-pilihan atau skenario yang digunakan dalam menjawab pertanyaan
model. Skenario harus terdiri dari lebih 1 variabel. Sebagai contoh intensitas
tebangan dengan taraf 100%, 50% dan 0, biaya pemanenan/ha (Rp. 1juta, 10 juta,
5 juta), riap tahunan (0,7 cm/tahun, 0,9 cm/tahun dan 1,2 cm/tahun). Pada kondisi
ini kita memiliki 25 skenario. Sebagai contoh adalah yakni skenario BAU,
skenario intensitas tebangan 100% dengan biaya 5 juta dan riap 0,7 cm/tahun. Skenario
ke-3 yakni intensitas tebangan 50%, biaya 5 juta dan riap 0,7 cm/tahun.
Melalui model use, kita dapat menjelaskan hasil model
dan dampak yang akan diterima jika skenario tersebut dijalankan.
f.
Uji
sensifitas
Uji sensifitas dilakukan untuk melihat variabel
yang sangat peka akibat dari berubahnya variabel yang lain.
Komponen Utama model sistem
Ada
6 komponen utama model sistem yakni:
a.
Stok :
tempat penimbunan materi/informasi
b.
Information transfer/material
transfer : perpindahan materi/informasi yang disampaikan atau yang terdapat
dalam variabel
c.
Driving variabel
: variabel yang mempengaruhi variabel lain dan juga dipengaruhi
d.
Auxilary variabel
: variabel yang mempengaruhi variabel lain dan tidak mempengaruhi variabel lain
e.
Flow :
saluran informasi/materi
f.
Constanta :
nilai tetapan hasil penelitian.
File bentuk pdf dapat didwonload di SINI