Tulisan Ilmiah

Jumat, 31 Oktober 2014

Pembebasan Tajuk dan Riap Tegakan Di Hutan Alam Bekas Tebangan

Pengaruh Pembebasan Terhadap Riap Tegakan Di Hutan Alam Bekas Tebangan
Di Kalimantan Barat

oleh

Haruni Krisnawati dan Djoko Wahjono


Penelitian ini menduga tingkat kompetisi di area-area bekas tebangan HPH. Data yang digunakan adalah PUP (Petak Ukur Permanen) yang dibangun pada tahun 1993 dan diukur pada tahun 1995, 1997 dan 2000.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan produktivitas jika dilakukan pembebasan tajuk yakni mencapai  0,43 cm/tahun sampai dengan 0,54 cm/tahun. Jika tidak dilakukan pembebasan, maka riap diameter hanya berkisar antara 0,29 cm/tahun - 0,37 cm/tahun.

Bila pohon dengan ukuran diameter 20 cm di setelah tebangan, maka diperlukan 56 tahun untuk mencapai 60 cm up atau 51 tahun untuk mencapai 40 cm up.

Informasi ini sangat berguna untuk diketahui. Jika pengelolaan Hutan Alam tidak mempertimbangkan pertumbuhan, dan secepat mungkin dilakukan penebangan di blok tebangan yang sama maka kemampuan pemulihan produktivitas akan semakin lambat.

Untuk memperoleh artikel ini, dapat didownload DISINI

Model Penduga Pohon Sengon

Pendugaan Isi Pohon Sengon (Paraserianthes falcataria Backer) 
Di KPH Banten

Oleh

Sofwan Bustomi dan rinaldi Imanuddin

Sengon dikenal luas sebagai kayu dengan nilai ekonomi tinggi. Perkembangan pembangunan hutan tanaman sengon terus meluas. Informasi model penduga hasil sangat dibutuhkan untuk kegiatan perencanaan dan valuasi hutan tanaman.

Pembuatan model pada pohon berdiri dan pohon rebah yang dibagi berdasarkan seksi. Hasil model sanat baik dengan koefisien determinasi>90%.

Untuk memperoleh artikl ini dapat didownload DISINI

Model Penduga Volume Akasia mangium di Kalimantan Barat

Model Penaksir Volume Dolok Jenis Acacia mangium Willd., 
Di Sanggau, Kalimantan Barat

oleh

Harbagung

Model penduga volume dibutuhkan untuk prediksi hasil yang akan diperoleh berdasarkan tahun. Model disusun dengan pertimbangan ukuran diameter. Model ini tidak menggunakan umur sebagai variabel bebas (independent variable). 
Model dihasilkan berupa model linier berganda, dengan koefisien determinasi mencapai 92% dan simpangan baku sebesar 10%. Model ini sangat baik digunakan jika informasi umur tanam tidak diketahui.

Untuk memperoleh full artikel, dapat didownload DISINI

Model Hasil Tegakan Hutan Tanaman Akasia mangium di Jambi

Model Hasil Tegakan Hutan Tanaman Acacia mangium Wild.
di kecamatan Tungkal Bulu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, Sumatera

oleh

Harbagung

Model penduga hasil hutan tanaman dibutuhkan untuk meramalkan potensi panenan dan juga dapat menduga nilai hutan serta biomassa. Penelitian ini menghasilkan model dugaan pada batang tanpa kulit sampai dengan diameter 7 cm dan angka bentuk 0,44.

Model yang dihasilkan berupa model jumlah batang, model diameter tegakan, model tinggi tegakan, model luas bidang dasar dan volume tegakan.

Untuk memperoleh full artikelnya..dapat didownload DISINI.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Evaluasi Pertumbuhan Awal Jabon di Hutan Rakyat

EVALUASI PERTUMBUHAN AWAL JABON ( Neolamarckia cadamba Roxb) DI HUTAN RAKYAT
(Early Growth Evaluation of Neolamarckia cadamba Roxb at Private Forest)
Lutfy Abdulah, Nina Mindawati, A. Syaffari Kosasih, Darwo
Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan
Kampus Balitbang Kehutanan, Jl. Gunung Batu No. 5 Po.Box 331, Bogor 16610, Indonesia
Email: lutfyabdulah@yahoo.co.id, ninapulp@gmail.com, safari_silvik@yahoo.com, darwo_iph@yahoo.co.id

 ABSTRAK

Jabon merupakan salah satu jenis pohon cepat tumbuh, sehingga jabon sangat diminati untuk dikembangkan di hutan rakyat dan hutan tanaman industri. Namun, pertumbuhan yang optimal akan tercapai jika pemahaman tentang teknik silvikultur seperti manajemen hara di tapak sangat dibutuhkan. Selain itu, luas lahan milik yang diperuntukkan untuk membangun hutan rakyat tidak terlalu luas, sementara kebutuhan untuk budidaya tanaman hortikultura juga penting.
Untuk itu penelitian ini dirancang untuk mempelajari laju pertumbuhan jabon pada scenario pengelolaan antara manajemen hara dan pemanfaatan lahan antara untuk meningkatkan nilai ekonomi lahan.Penelitian ini bertujuan untuk melihat beda pertumbuhan awal jabon pada variasi manajemen lahan dan manajemen hara yang berbeda terutama pemupukan dan pola agroforestry yang dikembangkan. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap, dimana perlakuan yang dilakukan adalah penanaman jabon dengan diberi pupuk kompos, jabon ditanam dengan pola agroforestry dan tidak diberi pupuk kompos serta jabon ditanam dengan pola agroforestry dan diberi pupuk kompos.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan diameter jabon terbaik bila jabon ditanam dengan pola agroforestry dan tidak diberi pupuk kompos maupun jabon ditanam dengan pola agroforestry dan diberi pupuk kompos.Sementara perlakuan terbaik untuk pertumbuhan tinggi jabon adalah jabon ditanam dengan pola agroforestry dan diberi pupuk kompos.

Untuk mendapatkan full paper dapat download DISINI

Jumat, 17 Oktober 2014

PRINSIP DASAR PEMODELAN SYSTEM



TANGGAPAN PERMODELAN DAN PERMODELAN SISTEM

BY

Lutfy Abdulah
Mira Yulianti
 
Teori pemodelan system

Definisi

Model : abstraksi dari kondisi real di lapangan
Sistem : segala sesuatu yang menjadi perhatian. Hal ini berarti bahwa dalam memodelkan suatu kondisi maka harus fokus pada apa yang ingin dijawab dengan model dan dibangun menggunakan sistem thinking. Sistem thinking adalah cara melihat sistem secara holistik dari variabel2 yang memperngaruhi sistem tersebut. Namun demikian, sistem thinking harus diarahkan pada apa yang ingin dijawab, tujuan dari menjawab permasalahan serta apakah dapat dijalankan dalam dunia nyata yang kemudian disebut dengan evaluasi dan model use.
Secara umum, terdapat 2 teknik dalam pemodelan yakni empirico-intuitive yakni memahami kondisi yang sebenarnya dan kemudian menentukan ragam penyusunan model, dan deductive yakni teknik yang dibangun melalui perenungan yang mempertimbangkan tesis utama atau hakikat dari suatu masalah, kemudian mencari manifestasi dari hakikat tersebut dalam beragam sistem nyata di lapangan. Kedua teknik ini tentu sangat berbeda, empirico-intuitive cenderung dilakukan oleh praktisi di lapangan sementara deductive dilakukan oleh para ilmuan yang berusaha membangun teori-teori dan kemudian menjalankan model untuk menjawab permasalahan di lapangan.
Model sistem berbeda dengan model matematika atau model statistik. Jika model matematika berusaha untuk membangun hubungan terbatas antara beberapa variabel, sementara model statistik menduga hubungan melalui penyederhanaan variabel yang mempengaruhi. Model sistem berupaya untuk terus mengembangkan dan mencari hubungan antara variabe2 yang mempengaruhi sistem. Selain itu, model sistem haruslah tidak linier dan ketika terdapat efek dari simulasi komponen model maka akan berpengaruh pada komponen model lainnya. Untuk itu, diperlukan uji sensifitas dari komponen model.

Manfaat dari membangun suatu model adalah menyajikan alternatif/pilihan kebijakan atau pengambilan keputusan oleh decision maker dalam mengelola sumberdaya dalam hal ini sumberdaya alam. Dalam menyajikan alternatif pengambilan keputusan maka dibutuhkan tool. Tool ini sebagai alat bantu supaya lebih efektif, efisien dan valid dalam menjelaskan kenyataan. Suatu tool yang dibangun haruslah mempertimbangkan beberapa hal yakni (1) keterlibatan stakeholders terkait, terutama praktisi dan subyek dari jalannya kebijakan tersebut; (2) adanya partisipasi atau feedback dari stakeholder; (3) adanya proses pembelajaran aktif yaitu berupa ketertarikan untuk menguji model, pemahaman dalam melihat model serta keinginan untuk berpartisipasi dalam mengomentari model tersebut. Ketiga hal tersebut menunjukkan bahwa modeler (pembuat model) harus membuat model yang sederhana yang diikuti oleh framework atau model konseptual yang dibuat sehingga stakeholder dapat dengan mudah memahami model tersebut.

Tahapan Pembangunan Model
Ada 6 tahapan model yakni :
a.      Menentukan isu, batasan dan tujuan model: Model yang dibangun harus menjawab 1 pertanyaan inti dan beberapa pertanyaan ikutan dari pertanyaan inti tersebut. Namun, tidak berarti dapat melebar kemana-mana, harus ada batasan. Untuk itu, model yang dibangun harus menyebutkan bataan serta asumsi-asumsi yang digunakan. Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, maka dapat ditentukan tujuan pembangunan model. Asumsi yang digunakan haruslah menerangkan tujuan yang ingin dicapai dari model yang dibangun.
b.      Spesifikasi model konseptual
Dalam membangun model perlu digambarkan causal loop. Melalui causal loop diagram maka tahapan yang pertama dapat dikendalikan serta dapat dengan mudah menentukan tujuan permodelan, stakeholer yang harus terlibat dalam evaluasi model serta harapan-harapan yang akan dicapai dari membangun model. Causal loop diagram harus digambarkan dengan jelas, dan memahami hubungan antar variabel. Pada tahap ini biasanya dilalukan validasi hubungan antar komponen.
c.       Spesifikasi model kuantitatif
Didasarkan pada model konseptual, selanjutnya dibangun hubungan matematika dari setiap komponen model. Hubungan matematika ini cenderung membatasi ruang gerak model terutama pada data-data yang bersifat kategori. Modeler harus merubah data pernyataan, persepsi atau tanggapa dalam skala numerik. Biasanya menggunakan skala likert. Dalam membangun hubungan matematis dapat menggunakan hasil penelitian sendiri atau merujuk pada hasil-hasil penelitian sebelumnya. Teknik dalam menggambarkan hubungan ini sangat bergantung pada kemampuan untuk mengeksplorasi hasil penelitian, membangun fungsi logika serta memanipulasi data statis menjadi data-data yang bersifat dinamis.
d.      Evaluasi model
Evaluasi model dimaksudkan untuk menguji hasil model. Variabel yang diuji adalah variabel tujuan. Dalam tahap ini tidak dilakukan validasi karena yang dilihat adalah tren dari variabel tujuan. Bukan komponen model. Variabel tujuan dibangun atas hubungan sekian banyak variabel model. Hal ini tentu sangat sulit sekali, sehingga cukup dengan evaluasi. Cara evaluasi model yaitu membandingkan tren model dengan kondisi real di lapangan melalui laporan, hasil penelitian serta laporan data statistik.
e.      Model use (penggunaan model)
Model use adalah menjalankan model melalui simulasi pilihan-pilihan atau skenario yang digunakan dalam menjawab pertanyaan model. Skenario harus terdiri dari lebih 1 variabel. Sebagai contoh intensitas tebangan dengan taraf 100%, 50% dan 0, biaya pemanenan/ha (Rp. 1juta, 10 juta, 5 juta), riap tahunan (0,7 cm/tahun, 0,9 cm/tahun dan 1,2 cm/tahun). Pada kondisi ini kita memiliki 25 skenario. Sebagai contoh adalah yakni skenario BAU, skenario intensitas tebangan 100% dengan biaya 5 juta dan riap 0,7 cm/tahun. Skenario ke-3 yakni intensitas tebangan 50%, biaya 5 juta dan riap 0,7 cm/tahun.
Melalui model use, kita dapat menjelaskan hasil model dan dampak yang akan diterima jika skenario tersebut dijalankan.
f.        Uji sensifitas
Uji sensifitas dilakukan untuk melihat variabel yang sangat peka akibat dari berubahnya variabel yang lain.

Komponen Utama model sistem
Ada 6 komponen utama model sistem yakni:
a.      Stok : tempat penimbunan materi/informasi
b.      Information transfer/material transfer : perpindahan materi/informasi yang disampaikan atau yang terdapat dalam variabel
c.       Driving variabel : variabel yang mempengaruhi variabel lain dan juga dipengaruhi
d.      Auxilary variabel : variabel yang mempengaruhi variabel lain dan tidak mempengaruhi variabel lain
e.      Flow : saluran informasi/materi
f.        Constanta : nilai tetapan hasil penelitian.

File bentuk pdf dapat didwonload di SINI